Sektor
pertanian memegang peranan cukup penting dalam perekonomian nasional umumnya
dan Kabupaten Solok khususnya. Hal ini disebabkan karena sektor pertanian
merupakan resource based yang mampu menyerap dan memperluas kesempatan
usaha/lapangan pekerjaan bagi masyarakat. Kabupaten Solok mempunyai keunggulan
komparatif di bidang pertanian, dengan berbagai potensi yang yang dimiliki
untuk mengembangkan berbagai komoditi seperti pangan dan hortikultura. Potensi
yang dimiliki antara lain Iklim dan agroekosistem yang sesuai, tersedianya sumberdaya
genetik yang melimpah, tersedianya SDM (petani dan petugas), dukungan kebij
akan pemerintah dan jumlah penduduk besar (Dinas Pertanian Kab. Solok, 2015)
Pertanian merupakan sokoguru pembangunan
perekonomian Kabupaten Solok pada masa kini dan akan tetap demikian hingga 25
tahun ke depan. Hal ini tercermin dari komposisi Pendapatan Domestik Bruto
(PDRB) tahun 2012, dimana sektor pertanian memberikan kontribusi terbesar
(44,85%) terhadap perekonomian Kabupaten Solok. Kontribusi lainnya adalah
sektor perdagangan, hotel dan restoran (14,01%), angkutan dan komunikasi
(11,84%), jasa-jasa (10,22%) dan lainnya (BPS Kabupaten Solok, 2012).
Dari segi
lapangan kerja, sektor pertanian merupakan penyerap tenaga kerja terbesar
dengan tingkat 52,02% dari total tenaga kerja di Kabupaten Solok. Selain sektor
pertanian, sektor lain yang menyerap tenaga kerja yang cukup banyak adalah
sektor perdagangan sebanyak 15,51%.
Penyuluhan
adalah salah satu cara yang digunakan untuk menginformasikan inovasi terbaru
dalam berbagai bidang, baik itu pertanian, peternakan, kesehatan dan
sebagainya. Dalam melakukan penyuluhan, diperlukan partisipasi dari berbagai
pihak, antara lain penyuluh dan sasaran penyuluhan dalam hal ini petani. Di
masa lalu, kegiatan penyuluhan hanya
dilakukan oleh pemerintah terkait. Namun, dengan berkembangnya zaman penyuluhan
telah menjadi kegiatan komersial, dimana penyuluhan sekarang banyak dilakukan
oleh perusahaan swasta.
Pihak swasta
yang melakukan kegiatan penyuluhan bisa perorangan atau perusahaan. Dalam melakukan
kegiatan penyuluhan, pelaku penyuluhan dibagi pada pelaku yang berorientasi
keutungan dan pelaku yang berorientasi pada kegiatan sosial atau gabungan dari
keduanya. Pelaku penyuluhan yang bertujuan untuk keuntungan serta kegiatan
sosial disebut dengan socio entrepreneur
yaitu wirausaha sosial.
Saat ini banyak
bermunculan wirausaha sosial, namun merintis usaha barulah tahap pertama.
Tantangan yang akan dihadapi adalah bagaimana caranya mempertahankan perusahaan
sosial yang dibangun. Menurut Kasali dalam Palesangi (2014), salah satu yang
sering membuat perusahaan sosial gagal adalah karena pendiri perusahaan yang
hanya mempunyai jiwa sebagai pejuang sosial, namun tidak mempunyai jiwa kewirausahaan dan basis
inovasi.